Aku untukmu


.


Lelah terus menyergap tubuhku setelah seharian beraktifitas dengan jadwal kuliah dan tugas makalah, ditambah kegiatan paduan suara untuk persiapan wisuda kakak kelas yang dibebankan pada mahasiswa tingkat pertama. alhasil pulang terlampau sore. aku pikir malam tlah bersinggah, tapi ternyata hanya mendung yang mewarnai atap angkasa.

Semilir angin menerpa wajahku, memainkan anak rambutku, ku tarik kursi kecil dari kamar dan aku duduk, menikmati setiap hembus nafas kehidupan anugrah tuhan.
Ya, seperti inilah aku ingin menjadi. menjadi angin membawa ketenangan dibalik kelamnya mendung. Menerbangkan duka, mengeringkan air mata. Menjadi nafas kehidupan, memberi harapa. Ada dimanapun kau berada.
Dan bukankah hitam awan tak dapat kau genggam? karna jika kau telusuri langit tak kan kau jumpai dinding berwarna. Yang bermakna tak ada kekurangan mutlak dalam diri ciptaan Tuhan, yang ada hanya warna yang berbeda disetiap indra yang menilainya dengan kasat mata.
Ah, hidup terasa lebih mudah ketika kau mampu menjadi bermakna. Hanya ini inginku sayang, menjadi angin bagimu dengan mendung yang tak dapat terpisahkan.
Sayup mu'adzin terdengar mendayu dikejauhan, bersama malam yang terlalu awal menyapa. Waktunya bagiku tuk bersujud menemui Illahi

Your Reply