Dosaku bukan dosamu


.


Entah apa yang aku pikirkan selama ini, baru aku sadari aku tlah menodai kesucian jiwa dan hatinya demi sesuatu yang masih disamarkan Allah. Dengan dalih rasa sayang, aku sentuh budi suci itu tanpa kupikirkan apakah jemari qalbuku bebas dr noda dan penyakit. 
Dia, slalu mampu kuatkanku, padahal itu masih belum mampu buktikan bahwa Tuhan takdirkan aku adalah tulang rusuknya yang Tuhan ambil saat Dia terlelap tidur disyurga.
Tulang rusuk itu mungkin bengkok, tapi ia tak kan menusuk raganya sendiri.
Dia mungkin masih mampu hapus air mata yang mengalir dipipiku, tapi apakah aku mampu mendengar hatinya menjerit menolak, berkata bahwa semuanya salah, semuany tak pantas terjadi, dan semuany aku lah yang mendalangi.
Dia, tak satupun darinya yang bisa aku benci, tapi itu belum mampu buktikan bahwa dia lah yang kan menyempurnakanku. Aku paksa dia tuk bersama lengkapi puzzle hidupku, tanpa sadar potongannya terlalu besar di kotak hidupku, terlalu indah di papan hatiku.
Semua begitu kabur
Begitu samar
Begitu abu abu...

Disudut hati yang kelam, 21 Agustus 2011
22 Ramadhan 1432 H

Your Reply